Cerpen Anak: Viko dan Gantungan Batman yang Hilang
Sumber: https://www.bing.com/images/create
Matahari bersinar terik ketika Viko pulang
sekolah ia berjalan kaki menuju rumahnya yang tidak jauh dari sekolah. Ia
merasa senang karena telah membeli mainan baru dari pedagang mainan keliling
yang selalu ada di depan sekolahnya. Viko baru saja membeli gantungan kunci
berbentuk Batman, berwarna hitam, dan bisa menyala. Teman-teman Viko sudah
memiliki mainan sebelumnya, ada yang memiliki bentuk Superman, Ultraman,
Spiderman, dan lainnya.
Viko membuka pintu rumah dan memberi salam
pada Ibu dan Kakaknya yang sedang dirumah.
Viko berteriak, “Assalamualaikum, Ibu,
Kakak,”
Ibu menjawab, “Waalaikumsalam Viko, lepas
seragamnya dulu ya, terus cuci tangan dan kakimu,”
Viko tidak mendengar perintah Ibu, ia
langsung menghampiri Kakak laki-lakinya yang bernama Renja. Viko ingin
mengajaknya bermain dengan mainan Batmannya yang baru.
Viko berkata, “Kakak, ayo main, aku beli Batman
bisa nyala, kayak gini,”
Kakak Renja menyahuti Viko, “Ayok, mumpung
Kakak libur nih, wahh bagus banget, Kakak jadi perampok, Viko jadi Batman yang
bisa menyelamatkan orang ya,”
Viko mengangguk senang, mereka berdua main
bersama hingga waktu makan siang tiba lalu Viko tidur siang, tetapi belum
mengganti seragamnya.
Viko terbangun, ketika sudah sore. Viko yang
sebelumnya telah memiliki rencana bermain bersama teman-teman sekitar rumahnya,
membawa gantungan kunci berbentuk Batman yang telah ia mainkan dengan Kakak
Renja sebelumnya, ia ingin menunjukkan ke teman-temannya bahwa ia sudah bisa
membeli gantungan yang berkarakter Batman. Viko langsung mengganti seragamnya
menjadi kaos dan celana santai. Ketika hendak mengambil gantungan kunci batman
tersebut yang rasanya telah ia taruh di meja samping tempat tidurnya, ternyata
barang tersebut tidak ada.
Viko sedih dan panik, ia mencari di seluruh
tempat yang ada di rumahnya dan tidak menemukan di mana gantungan kunci Batman
tersebut berada. Viko bingung, ia sudah terlanjur berjanji pada temannya untuk
bermain bersama superhero-superhero tersebut. Ia menyalahkan Kakak Renja karena
terakhir mereka main berdua.
Viko marah dan berkata, “Kakak ini, pasti
yang mengambil batman ku kan, sekarang hilang!”
Kakak Renja yang sedang mengerjakan tugas sekolahnya
pun kaget karena Viko menangis, ia langsung menghampiri Viko, “Viko, tadi suda
kamu bawa ke kamar, sebelum makan siang, coba dicari lagi, pelan-pelan,” Viko semakin
menangis, “Udah aku cari di kamar, di sini, di dapur, semuanya tidak ada, ini
semua gara-gara Kakak!” Kakak Renja menghela nafas mencoba menasihati Viko
kembali, tetapi sebelum dinasihati, Viko sudah berlari keluar, menghapus
tangisnya menggunakan tangan, dan bergabung dengan sekelompok teman-teman yang
sudah ada di depan rumahnya. Kakak Renja membiarkannya, ia berfikir jika
mungkin dengan bermain Viko tidak akan menangis lagi.
Viko menjelaskan kepada temannya,
“Teman-teman aku sudah membeli yang batman, tapi sekarang tidak ada, tadi
kumainkan sama Kak Renja,”
Teman Viko yang bernama Raka menjawab,
“Kamu bohong ya Viko, kalau sudah beli ya di bawa biar kita bisa main
bareng-bareng,”
Viko merasa ia akan menangis, suaranya
sudah menahan tangis, “Enggak, beneran aku sudah beli, nanti tanya Kakak Renja
aja, pasti dia tidak bohong,”
Semua teman Viko yang ada di tempat
tersebut, merasa kecewa karena telah direncanakan bahwa batman akan membunuh
musuh-musuh. Viko pun memilih untuk pulang. Sampainya di rumah, ia kembali menangis.
Ibu yang habis dari rumah Bu RT pun menenangkan Viko, dan menanyai baik-baik
sebab Viko menangis. Kakak Renja menjelaskan kepada Ibu jika gantungan batman
Viko yang baru hilang.
Ibu berkata, “Ayo dicari dulu pelan-pelan
siapa tahu kelewatan pas Viko mencarinnya,”
Viko mengangguk dan mulai mencari dibantu
Ibu dan Kakak Renja.
Ibu memanggil Viko, “Viko, sayang, kesini
coba,”
Dengan muka yang masih cemberut. Ibu
mengeluarkan gantungan batman yang telah ia cari-cari dari kantong depa seragam
miliknya,
“Ini apa Viko, sudah ketemu kan, ini yang
kamu cari, kan?” Viko mengambil mainan tersebut dan memeluknya, Kakak Renja
yang mendengarpun menghampiri keberadaan Ibu dan Viko.
Ibu menghela nafas, dan menasihati Viko,
“Viko, kalau dibilangin ibu itu, nurut ya, kan demi kebaikan Viko. Ibu suruh
Viko ganti baju, supaya Viko bersih kan habis main sama teman kan, di sekolah
tadi?”
Viko yang dipangkuan Ibu, mengangguk paham
dengan perkataan Ibu. Ibu kembali berbicara, “Sekarang Viko sudah tau kesalahan
Viko kan, minta maaf sama Kakak Renja, Viko sudah menuduh Kakak Renja kan?”
Viko mengangguk dan berdiri menghampiri
Kak Renja. “Kak Renja, Viko minta maaf ya. ga seharusnya Viko marah-marah dan
nuduh kakak,” Kakak Renja memaafkan Viko, mereka berpelukan dan Viko pun
kembali ceria seperti sebelumnya.

Komentar
Posting Komentar