Cerpen: "Sepucuk Asa untuk Orang Tua"
Sumber: Pinterest.com
Mentari menampilkan sosoknya, diiringi kicauan burung dan kokokan ayam yang nyaring terdengar di telinga. Paras gadis cantik berumur 16 tahun yang sekarang duduk di bangku kelas 11 di sebuah sekolah menengah kejuruan terlihat sedang menali sepatu di dapur rumahnya. Asaila namanya, kerap disapa Asa. Ia sedang bersiap diri untuk pergi ke sekolah, pamit kepada kedua orang tua yang berada satu rumah, ibu dan kakeknya. Pergantian hari baru saja dimulai, namun aura wajah Asa tidak secantik paras mukanya. Tidak ada senyuman ceria layaknya siswa lain yang hendak berangkat ke sekolah, yang hanya untuk bermain atau sekadar mendapatkan uang saku dari orang tuanya.
Sekolah tempatnya mengenyam pendidikan merupakan salah satu sekolah swasta yang bisa dibilang kekurangan murid karena kualitasnya yang lebih rendah dari sekolah lain, akreditasinya pun masih B, dan satu kelasnya hanya diisi sekitar 25 siswa. Ketika sampai sekolah dan jam pelajaran pertama belum sempat dimulai namun Asa sudah kaget, tempat duduk yang biasanya ia tempati sudah diberi tulisan "Punya Itari‟ menggunakan sticky notes. Asa mengernyit heran, perasaan tempat duduk sudah ditentukan oleh Ibu Guru Inafah kemarin siang sebelum pulang sekolah, lantas mengapa Tari melakukan hal demikian.
Asa lalu berdiri di samping kursi tersebut, netranya ia lebarkan untuk menelisik teman-temannya yang sudah hadir di kelas, “Halo bukannya ini kursiku kemarin ya, "kok jadi punya Tari?” ucap Asa berharap teman-teman yang sudah ada dalam kelas itu menimpali pertanyaanya.
Salah satu temannya pun menyeletuk, “Kamu lupa kah Asa, nanti ada jamnya Pak Agha, selain tugas minggu kemarin dikumpul, nanti juga ada ulangan,”Teman lain Asa menimpali “Udah duduk aja di kursi kosong, gitu aja ribet,” Asa diam sejenak, benar, dirinya harus mengalah. Ia pun beranjak menuju ke meja kosong kedua dari depan, rapat dengan tembok. Waktu yang ditunggu seluruh siswa pun tiba, yakni, waktu istirahat. Asa bergabung dengan teman perempuan lainnya yang sedang duduk di depan kelas sambil memakan snack yang dibeli dari koperasi sekolah. Asa tidak ikut makan, uang saku yang diberi kakek untuknya harus ia irit sebisa mungkin, lagi pula ia juga sudah sarapan dan membawa air minum dari rumah.
Asa tidak seperti teman perempuan lainnya, yang kemana-mana pergi bersama segerombolan sahabat, atau hanya bersama sahabat dekat. Asa tidak memiliki semua itu, ia merupakan gadis yang baik, selalu membantu dikala temannya kesusahan, ia harus selalu mengalah pula ketika duduk atau kerja kelompok. Namun, apa yang diharapkan Asa selama ini tidak sesuai ekspektasinya, ia tidak mempunyai satupun teman yang ia anggap spesial. Walaupun ia terbiasa hidup dalam kesepian. Namun, ia selalu mengesampingkan perasaan kecewanya yang ia punya dan selalu menyapa teman sekolahnya, menanyakan kabar, mencoba mengobrol, dan bercanda. Mungkin jika dilihat sepintas hanya Jina dan Tara yang sering berinteraksi dengan Asa.
Asa mulai bosan mendengar dan melihat temannya yang makan sambil bergurau. Untuk memecah kesepian di benaknya ia pun memberanikan diri untuk memulai obrolan dengan teman di sampingnya, “Tugasnya susah nggak, Na? Lama juga ya buatnya, hahaha,”.
Jina, teman yang memiliki sikap ramah dan sering membantu Asa di SMK jurusan tata busana ini, “B aja, iya juga sih tapi ada susahnya juga ya Sa, kalau aku pas gradasi warna,”
Garis bibir Asa melengkung ke atas hatinya menghangat sedikit setelah kejadian kursi direbut tadi.
Jam pelajaran ketiga sudah dimulai, tepatnya mata pelajaran milik Pak Agha, yakni, desain busana. Pak Agha masuk ke kelas, sedikit teriak karena suasana bising oleh siswa-siswa yang sedang berbicara satu sama lain.
“Halo-halo perhatiannya semuanya, hari ini cukup mengumpul tugas ya, tidak jadi ulangan. Bapak ada rapat karena sekolah akan dinilai tentunya oleh pengawas sekolah, dikoordinasi sama Tara ketua kelas ya, jangan ramai, ingat!”
“Baik Bapak Agha!” Teriak serentak satu kelas.
***.
Hingga saat pengumpulan tugas tiba. Asa membuka pekerjaan rumahnya yang sudah ia kerjakan sejak seminggu lalu. Matanya membelalak, tangannya bergetar, sudut bibirnya melengkung ke bawah, dan dahinya sedikit mengeluarkan peluh secara tiba-tiba. Tugasnya terbelah menjadi dua.
Mulut gadis itu terbuka, kemudian ia sedikit berteriak, “Halo yang istirahat di kelas apa ada yang geledah tas ku, kenapa tugasku rusak?” suaranya terdengar bergetar. Semua siswa yang sedang sibuk menata paper desain gaun itu langsung memusatkan pandangan pada Asa. Tara, sang ketua kelas menyeletuk, “Ga ada yangduduk di tempatmu, ga ada juga yang pegang tasmu, Sa, aku dari tadi di kelas terus. Memang ada apa?”
Tangan mungil Asa meremas rok yang ia kenakan, sebisa mungkin ia menahan isakan. Asa kembali berbicara, sambil mengangkat tugasnya yang rusak.
“Berarti ini ga ada yang tau ya, Tara kalau aku gak ikut ngumpulin sekarang gimana, aku mau buat lagi,”
Itari langsung menyahut, “Lagian ya, Sa. Semua orang juga sudah selesai dan udah konsul ke Pak Agha juga kan masing masing anak desainnya beda, kalau yang rusakin anak kelas ya ga mungkin, toh gambaranmu juga biasa, pasti nilainya juga pas-pasan,”
Asa langsung terdiam, kerongkongannya tiba-tiba kering, sesak menjalar didada mendengar perkataan Tari. Sudah tidak asing lagi kalau Itari memang memiliki
kepribadian seperti itu, suka bicara seenaknya. Asa menyahut tidak terima, “Jangan- jangan kamu Tar yang ngelakuin ini? Kenapa bisa ngomong gitu, kamu juga yang ngerebut tempat duduk ku,”
Tari merotasikan mata sambil membuang nafas kasar, “Sa, bukannya aku jahat sama kamu, tapi aku sama sekali ga ngelakuin itu, dan untuk urusan kursi sorry banget aku emang ngambil tempatmu,”
Tara menyahut dan memotong pembicaraan kedua insan itu, “Gapapa Sa, nanti aku coba hubungi Pak Agha kalau tugasmu rusak karena sesuatu yang kamu gak tau,”
***
Di jalan pulang, Asa tidak langsung pulang ke rumah, padahal sang mentari mulai berada di arah barat, tanda malam akan akan segera tiba. Banyak sekali pertanyaan yang berkutat di kepala Asa, siapa yang merusak tugasnya hingga bagaimana ia membuat ulang tugasnya. Ia memutuskan untuk mampir di alun-alun untuk sekadar duduk dan memandangi anak-anak SMP yang sedang bermain futsal, pikirannya terlalu kalut untuk langsung bertemu Ibu dan Kakeknya. Di genggaman tangan kanan gadis itu terdapat sebuah plastik berisi bakpao yang ia beli tadi di kantin sekolah mulai dimakannya.
“Eh, Asa kok belum pulang, malah kesini, udah malem lho,” Orang itu Jina, terlihat menggunakan perpaduan antara celana jogger dan kaos serta topi yang melindungi kepalanya, keringatnya sudah bercucuran menandakan ia baru selesai olahraga.
Asa tersenyum simpul, menyapa balik teman sekelasnya itu. “Hai Jina, iya aku belum pulang, mau liat-liat dulu lama ga main kesini,”
Jina mengangguk perlahan dan langsung mencecar Asa dengan banyak pertanyaan, “Gimana tadi papermu, jadi bikin ulang ga, terus Pak Agha gimana, terus juga yang menyobek kertasmu udah tau siapa?” Asa memasang muka datar, terlalu malas untuk membahas hal demikian, terlebih ia mampir ke Alun-alun untuk melupakan hal tersebut.
“Udah,” ucap final Asa, tidak mau membicarakan terlalu jauh karena hanya akan membuat moodnya buruk.
“Jina, aku boleh nanya sesuatu ga?" Imbuhnya.
Jina terdiam sejenak, mulutnya penuh berisi air dari botol yang ia tenteng, ia mengangguk sebagai jawaban.
Setelah air itu masuk ke tegukkan Jina menjawab, "Soal apa, kalau soal masalah paper mu aku beneran ga tau,"
Asa menggeleng, “Bukan kok, ini tentang kenapa ya temen-temen kayak gimana gitu sama aku, apa karena aku miskin dan gak punya Ayah?” Tanya Asa.
Jina terkekeh pelan, dirinya tergolong sosok yang cerdas, tidak perlu hitungan menit untuk memahami maksud dari ucapan lawan bicaranya itu dia sudah tau apa makna dari kalimat tersebut.
Jina menjawab pertanyaan Asa dengan santai, “Ibumu kan mantan narapidana apalagi kasusnya nyuri mungkin mereka takut kalau kamu ketularan ibumu terus ikutan nyuri, itu menurutku sih, tapi Itari juga pernah ngomong gitu sama aku,”
Hatinya bak tertusuk belati, tertohok begitu sakit mendengar ucapan teman yang ia anggap ramah tersebut, “Oh karena itu ya? Yaudah ibuku sekarang sudah baik kok, aku juga belajar buat ga ngelakuin hal-hal jahat. Oh ya aku pulang dulu, kamu hati-hati,”
Tanpa menunggu balasan dari sang lawan bicara, Asa bangkit dan langsung berjalan pulang, ia tersenyum palsu, sembari meremas plastik bekas bakpaonya tadi, fakta mengejutkan baru saja ia dapati membuat hatinya kian murung dan kembali merasakan bahwa dunia tidak pernah berpihak kepadanya. Ia tahu ibunya mantan narapidana tapi ibunya sudah seratus persen berubah menjadi sosok lembut dan selalu melindunginya.
Sesampainya di rumah, Asa membuang jauh-jauh pikirannya. Tanpa menyapa terlebih dulu, Asa langsung mengucap, “Ibu, Asa lapar, makan apakah hari ini?” sambil memamerkan senyum sumringahnya, mengesampingkan perkataan Jina dan masalah yang terjadi di sekolahnya tadi. Ibu tersenyum simpul, meninggalkan pekerjaannya menggulung kulit risol, telapak tangan penuh tepung itu Ibu cuci, dan menghampiri Asa di depan pintu dapur. Tangan wanita berusia empat puluh lima tahun itu menyentuh surai Asa perlahan.
“Sayangnya Ibu mau makan apa? Hari ini bebas kamu yang nentuin, asal masih bisa ibu beli dan kakek harus doyan,”
Asa berpikir sejenak, telunjuk tangannya mengetuk-ngetukkan dagu seolah berpikir keras seperti profesor. “Tadi Asa lihat teman Asa makan sarden sama nugget, Ibu, dari baunya enak banget, apa boleh beli salah satu dari itu?‟
Jantung ibu tiba-tiba berdegup kencang, panik melanda sekujur tubuhnya, ia tak menyangka apa yang diinginkan putri semata wayangnya adalah makanan seperti itu, biasanya ia hanya akan meminta ayam dan ikan yang hanya bisa ibu beli dengan uang 10 ribu.
Ibu merengkuh tubuh Asa untuk duduk di kursi dapur, “Asaila sayang, putri ibu yang cantik luar biasa ini, sarden dan nugget itu harganya paling tidak 15 ribu, Ibu hanya punya 10 ribu untuk makan, apa kamu mau ibu belikan ayam sepotong lalu ibu akan olah menjadi nugget?" ucap Ibu selembut mungkin untuk memberikan pengertian kepada Asa.
Muka masam tiba-tiba muncul di wajah Asa, perasaan yang ia sembunyikan sepulang sekolah kembali muncul dan seolah membuncah. Badannya ia tarik dari rengkuhan sang ibu, kemudian sedikit berlari ke kecil menuju kamar yang disekat dengan triplek. Dirinya menangis dalam diam, memikirkan bahwa semua pemikiran yang berputar di otaknya tadi siang memang benar adanya. Pemikiran Asa tentang dirinya yang tidak pernah beruntung di segala hal, nyatanya memang benar.
Bermodal kamar berukuran 3x3 yang dibuatkan kakek, Asa berada dibalik sarung tipis, menghalau setiap bulir air mata yang berteriak meminta keluar. Nyatanya suara tangisan Asa menggema hinga kamar kakek yang berada tepat di sampingnya. Kamar yang hanya terdapat dipan dan kasur kapuk dilapisi kain jarik. “Asaila, kok nangis?” Ucap kakek sedikit menggunakan tenaga. Ibu langsung tergopoh-gopoh ke kamar kakek, memberi isyarat bahwa Asa menangis disebabkan oleh dirinya.
Kakek menuju ke kamar Asa dan masuk begitu saja tanpa permisi. “Kalau nangis besok ga kakek buatin apa-apa lagi kalau cucu cantik satu ini minta sesuatu,”
Mendengar demikian, kepala Asa mendongak menatap tepat pada kornea mata sang ayah dari ibunya tersebut, punggung tangan kirinya menyeka air mata di pipi.
“Tugas Asa rusak, kayak sobek tapi gatau siapa yang ngelakuin, Asa udah tanya ke teman-teman semua dan mereka gatau, Asa ga tau yang ngerusak siapa,”
Asa bicara singkat di sela tangisnya. “Asaila, kamu tidak boleh menuduh teman-temanmu lho, tapi kemarin hari apa itu kakek liat gambaran bajumu itu terbuka dan ada Marley di sampingmu, saat kamu tidur, apa mungkin karena dia?”
Asa menegakkan tubuhnya memusatkan penuh pandangannya pada sang kakek. Marley, kucing persia milik tetangga samping rumah memang sering bermain dengannya, tapi, ada kemungkinan juga kalau Marley yang melakukan karena kucing itu sedikit ganas dan sering sekali mengasah kukunya sembarangan. Asa terdiam kembali, terlalu malas memikirkan hal tersebut yang hanya akan membuatnya menangis lagi, dan semuanya juga sudah terjadi, tahu tidak tahu penyebabnya ia juga harus membuat ulang tugasnya lagi. Dari fakta mengejutkan yang baru saja Asa dapati, dugaan kuat memang Marley yang merusaknya, ditambah lagi kata Tara saat di kelas tidak melihat siapapun yang mendekati tempat duduknya.
“Asa,” Uluran tangan kanan kakek mendarat pada pucuk kepala milik Asa, memberinya usapan lembut.
“Asa, yang artinya harapan. Ibumu sudah putus asa ketika ditinggal ayahmu, bahkan keadaannnya seperti orang gila, makanya Kakek beri kamu nama Asa agar menjadi harapan bagi Ibu dan juga Kakek, kamu sekarang sudah besar dan menjadi gadis yang baik, besok jangan menuduh lagi ya, tanyain baik-baik jangan sambil emosi,” Ucap Kakek lembut berusaha menetralisir keadaan.
Yang mendapat jawaban memperhatikan seksama semua omongan dari kakek. Kepalanya menggeleng perlahan, tangisnya sudah berhenti namun masih sesenggukan. “Asa ga nuduh kok, mungkin tadi agak sedikit emosi terus agak kelihatan marah,” pekik Asa. Semua emosi mulai dari amarah, sedih, dan kecewa, beradu menjadi satu, sebisa mungkin Asa tahan dan mengatur, hingga dirinya tenang dengan sendirinya. Kakek tidak menimpali, takut apabila mengucapkan sesuatu malah menyulut kembali emosi sang cucu. Kakek tersenyum tipis memandang cucunya yang sudah memiliki pemikiran dewasa itu, cucunya yang dulu ia timang saat ditinggal ibunya pergi, kini sudah tumbuh menjadi gadis cantik dengan hati yang cantik pula.

esainya sangat menarik alurnya
BalasHapusduhhh keren bgt sih
BalasHapusMenarik banget
BalasHapus