Ironisnya Pendidikan Karakter Sekarang


Sumber: dairysia.com


 Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku melalui pengajaran dan pelatihan untuk seseorang maupun kelompok dengan harapan mendewasakan manusia. Sedangkan karakter menurut KBBI, adalah kebiasaan, akhlak, kepribadian,sifat kejiwaan sifat-sifat kejiwaan, yang membedakan antara manusia satu dengan manusia yang lain. Jadi, pendidikan karakter berarti usaha untuk memengaruhi karakter atau kepribadian yang berakhlak dan berbudi. 

Penanaman karakter bangsa sangat berkaitan dengan peran pendidikan. Karena pendidikan karakter tersebut sangat berguna dan penting bagi manusia maka pendidikan sebaiknya tidak hanya memberi pengajaran dan pengetahuan tentang moral, tetapi juga mampu melakukan tindakan dalam bermoral sesuai Pancasila. Mendidik manusia agar bermoral dan berperilaku baik jauh lebih sulit dibanding menjadikan manusia cerdas. Karena hal tersebut krisis moral menjadi salah satu problematika Indonesia yang yang sering terjadi tetapi belum sempurna teratasi. Krisis moral inilah yang menuntut adanya pendidikan karakter yang lebih. 

Sekolah dituntut untuk memiliki peran dalam membangun dan menyampaikan tanggung jawab agar menumbuhkan nilai yang baik dan membantu para siswa membentuk dan membangun karakter mereka dengan nilai-nilai yang baik pula. Bentuk-bentuk pendidikan karakter seperti bertanggung jawab, jujur, disiplin, taat pada perintah, menghargai, peduli, dan akhlak mulia lainnya. 

Pelaksanaan pendidikan karakter di Indonesia saat ini cukup belum sepenuhnya berhasil dilaksanakan, sekolah sudah sangat maksimal dalam membentuk pendidikan karakter, namun pengimplementasian tidak sesuai dengan pendidikan. Salah satu cara sekolah untuk memaksimalkan terlaksananya pendidikan karakter adalah dengan upaca preventif atau pencegahan. Sekolah rutin melakukan sosialisasi dan pembekalan mengenai pendidikan karakter baik secara langsung saat pembelajaran maupun luar pembelajaran. Penyediaan bimbingan konseling juga memadai di setiap sekolah. Usaha pendidik untuk memahami setiap karakter anak masih kurang sehingga kedepannya diharapkan mampu untuk menransfer karakter agar memiliki arah yang pasti dan jelas. 

Namun tidak dapat dipungkiri bahwa demografi di Indonesia sangat membludak. Hal ini menyebabkan jumlah anak tidak sekolah meningkat karena terbatasnya lembaga pendidikan, apalagi kondisi pandemi akibat covid-19 yang semakin memperparah keadaan. Sekolah dengan metode online yang mengurangi interaksi antara pengajar dan siswa. Kurangnya pengawasan dari guru menyebabkan pula berkurangnya waktu dalam pemberian pendidikan karakter. Para siswa melakukan banyak penyelewengan. Seperti, tawuran, bolos kelas, mengucapkan kata kasar pada guru atau orang tua, membawa sajam ke sekolah, pelecehan seksual, penggunaan obat-obat terlarang, bahkan narkoba. 

Hubungan kurang dekat antara murid dan guru juga menyebabkan pendidikan karakter di Indonesia saat ini kurang berjalan lancar. Mereka beranggapan bahwa peran guru hanya di sekolah saja. Padahal, saat di luar sekolah pendidikan karakter yang diberikan oleh guru juga harus diterapkan. 

Banyak faktor yang memengaruhi gagalnya pendidikan karakter. Dalam kehidupan bermasyarakat anak yang nakal biasanya diberi labeling oleh masyarakat sekitar, yakni pemberian julukan atau cap bahwa anak tersebut nakal. Tindakan labeling tersebut bukannya membuat anak jera, tetapi malah membuat anak semakin percaya diri bahwa dirinya hebat dengan kenakalan yang ia perbuat. Membuktikan pada orang-orang yang me-labeling bahwa ia berani berbuat kesalahan yang dianggapnya hebat, padahal tindakan yang ia perbuat itu aslinya merugikan bagi dirinya sendiri, lingkungan, bahkan orang lain. 

Pemberian pendidikan karakter di sekolah wajib dilakukan dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Kurangnya pembiasaan dalam penerapan pendidikan karakter juga menjadi faktor terhambatnya penerapan kehidupan bermoral yang akan berpengaruh pada kehidupan masa depan. 

Faktor paling dekat dengan anak dalam menentukan karakter adalah keluarga. Keluarga memiliki fungsi kasih sayang atau disebut juga fungsi afeksi. Kurangnya perhatian, kasih sayang, bahkan keadaan keluarga yang broken home menyebabkan anak menjadi membangkan untuk melampiaskan kemarahannya. Mereka tidak punya contoh yang dapat dijadikan panutan dalam keluarga jadi merasakan dirinya sudah melakukan tindakan paling benar. 

Faktor sosial juga dalam penerapan nilai sosial dalam pembentukan kepribadian karena banyaknya penyimpangan sosial yang dilakukan remaja dalam kehidupan sosial. Untuk menentukan baik buruknya sesuatu biasanya melalui proses pertimbangan. Proses pertimbangan ini juga dipengaruhi kebudayaan yang turun-temurun membuat generasi milenial bosan karena tidak sesuai dengan perkembangan zaman. 

Solusi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pendidikan karakter agar lebih tertanam pada diri anak adalah dengan tindakan. Kebanyakan yang siswa dapat dari pendidikan karakter di sekolah yaitu pesan, nasihat, materi bahkan pelajaran, padahal pendidikan karakter sendiri dapat diterapkan dengan proses mengamati, mengkaji, dan mempraktikkan. Kebiasaan juga menjadi salah satu keberhasilan dalam pelaksanaan pendidikan karakter, Misalnya pembiasaan baris upacara sebelum jam 7 dan kebijakan disiplin dalam pelaksanaan ekstrakulikuler. 

Pembentukan komunitas peduli. Komunnitas ini dapat membantu anak anak yang sudah melakukan kenakalan dengan upaya represif. Apabila anak sudah bebal dengan peringatan sekolah atau keluarga, komunitas disini berperan menekan anak agar tidak mengulangi tindakan-tindakan penyimpangannya. 




Daftar Pustaka 

Sudrajat, Ajat. 2011. “Mengapa Pendidikan Karakter”. Jurnal Pendidikan Karakter, Vol.1, No.1, pp. 48-52. 

Laksana, Sigit Dwi. 2015. “Urgensi Pendidikan Karakter”. Journal Umpo. Vol.05, No. 01, pp. 174-181. 

Rachman, Maman. 2013. “Pengembangan Pendidikan Karakter Berwawasan Konservasi Nilai-Nilai Sosial”. Jurnal FIS. Vol.40, No.1, pp. 3-10. 

Purnomo, Sutrimo. 2014. “Pendidikan Karakter di Indonesia”. Jurnal Kependidikan. Vol.2, No.02, pp. 69-77.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer