“Kesalahan dalam Pelaksanaan Pembelajaran Berdiferensiasi pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia”
Pembelajaran
berdiferensiasi merupakan pembelajaran yang memperhitungkan keberagaman dari peserta
didik dan menyesuaikan dengan kesiapan, minat, dan preferensi belajar mereka
(Isrotun:2022). Dalam pembelajaran berdiferensiasi memerlukan adanya peran
utama guru karena merupakan pembimbing sekaligus fasilitator di lingkungan
sekolah. Sebagai guru, harus mengetahui bahwa kinerja siswa akan menjadi lebih
bagus ketika tugas-tugas yang diberikan sesuai dengan pengetahuan dan
keterampilan. Namun, pemahaman tentang konsep tersebut terkadang masih salah
pengimplementasiannya dalam pembelajaran.
Perbedaan
siswa baik dari segi sifat, kemampuan, bakat, minat,pengalaman, maupun cara
belajar seharusnya memerlukan pelayanan dalam memperhatikan perbedaan ini.
Tidak adil jika seorang guru memperlakukan semua siswa sama, dilihat dari
materi pembelajaran, metode, dan penilaian. Hal seperti masih sering terjadi
dalam sebuah pembelajaran, padahal seharusnya guru memperhatikan perbedaan ini
sehingga dapat menyusun strategi pembelajaran sesuai dengan kebutuhan siswa
(Mudjiran & Etmi 2022:8939).
Mata
pelajaran bahasa Indonesia adalah mata pelajaran yang berbasis teks, terdapat
teks deskripsi, eksposisi, prosedur, fabel, eksplanasi, dsb. Dalam pelaksanaan
pembelajaran berdiferensiasi terkadang kurangnya guru dalam mendiferensiasikan
konten, padahal menurut Jatmiko&Surya (2017:229) mempertimbangkan konten
merupakan salah satu perhatian terhadap jenis belajar. Pembelajaran hanya
disajikan secara monoton dengan membaca, mendengar, dan interaksi tanya jawab
antar guru dengan siswa.
Kurangnya
penilaian awal yang menyeluruh. Dalam hal ini, kurangnya perhatian terhadap
penilaian awal tentang kebutuhan dan kemampuan peserta didik kurang
diperhatikan sehingga menyulitkan dalam merancang strategi pembelajaran
diferensiasi, menyulitkan juga penyesuaian rancangan pembelajaran kepada
peserta didik. Pembelajaran sering langsung menuju ke materi yang sudah
ditentukan kurikulum. Kesalahan yang kedua yaitu pengelompokkan yang kurang
tepat. Masih terdapat banyak terjadinya miskonsepsi/kesalahpahaman dalam
pembelajaran berdiferensiasi. Pengelompokkan siswa dapat dikategorikan sebagai
salah satu elemen penting dalam pembelajaran berdiferensiasi. Namun, pada
faktanya, terkadang guru cenderung mengelompokkan siswa berdasarkan hal yang
kurang relevan, seperti menyuruh kerjasama dengan teman sebangku atau membagi
kelompok secara acak tanpa mengetahui dari kebutuhan masing-masing siswa. Hal
seperti ini akan menyebabkan ketidaksesuain antara tingkat kesulitan tugas
dengan kemampuan siswa dalam suatu kelompok.
Telah
diketahui menurut Isrotun:2017 bahwa gaya belajar terdapat banyak jenisnya.
Siswa satu antar siswa yang lain tentu memiliki gaya belajar yang berbeda,
seperti ada yang menggunakan media visual, pendengaran, maupun praktik. Salah
satu kesalahan umum dalam pembelajaran berdiferensiasi pada mata pelajaran
bahasa Indonesia adalah kurangnya memperhatikan gaya belajar siswa karena buku
bahasa Indonesia mayoritas memakai teks Panjang. Guru cenderung mengajar
menggunakan satu jenis gaya belajar saja, contohnya membaca teks kemudian
memberikan tugas analisis. Hal demikian dapat mengesampingkan sejumlah siswa memiliki minat atau gaya
belajar yang berbeda.
Kurangnya
memodifikasi pembelajaran. Memodifikasi pembelajaran merupakan salah satu aspek
penting dari pembelajaran berdiferensiasi. Namun, sering terdapat kesalahan
dalam penyesuaian materi yang terlalu sedikit atau malah terlalu menyeluruh.
Terlalu sedikit dalam memodifikasi pembelajaran akan membuat siswa bosan,
tetapi terlalu banyak modifikasi juga dapat mengakibatkan kesulitan bagi siswa
tertentu.
Tidak
memberikan dukungan yang memadai. Perlu pemahaman bahwa setiap peserta didik
memerlukan dukungan sesuai dengan kemampuan mereka. Salah satu kesalahan yang
masih kerap dilakukan adalah tidak memberikan dukungan yang cukup kepada siswa
yang membutuhkan. Dukungan tersebut dapat berupa motivasi, bimbingan khusus,
tambahan materi, atau membantu menyesuaikan bacaan yang sesuai dengan tingkat
pemahaman siswa. Namun, masih banyak guru yang tidak memiliki waktu untuk
melakukan hal tersebut karena masih memiliki urusan lain selain dengan urusan
sekolah.
Pembelajaran
berdiferensiasi memang bermanfaat bagi pemenuhan kebutuhan belajar individual
siswa. Kesalahan umum yang sering terjadi dalam penerapan pembelajaran
berdiferensiasi dapat diperbaiki apabila guru telah menguasai penuh tentang
komponen pembelajaran berdiferensiasi yaitu isi terkait dengan penyesuaian
bahan bacaan, proses tentang kolaborasi peserta didik dalam pembelajaran,
produk berkaitan dengan kebutuhan belajar, dan lingkungan belajar yaitu tempat
atau suasana yang mendukung selama pembelajaran. Dengan hal tersebut kualitas
pembelajaran bahasa Indonesia dapat meningkat dan peserta didik dapat
mendapatkan kesempatan yang setara untuk berkembang sesuai dengan pribadi
masing-masing.
Daftar
Pustaka
Hardi, Etmi & Mudjiran. 2022. “Diversitas
Sosiokultural Dalam Wujud Pendidikan Multikultural, Gender dan Pembelajaran
Berdiferensiasi.” Jurnal Pendidikan dan Konseling. Vol.4, No.6, pp.8931-8942. Diakses dari https://journal.universitaspahlawan.ac.id/
pada tanggal 13 Oktober 2023
Isrotun, Umi. 2022. “Upaya Memenuhi
Kebutuhan Belajar Peserta Didik Melalui Pembelajaran Berdiferensiasi” Proceeding STEKOM. Vol.2, No.1. Diakses dari https://prosiding.stekom.ac.id pada tanggal 13 Oktober 2023
Jatmiko,
Henry & Putra, Rian. 2022. “Refleksi Diri Guru Bahasa Indonesia
Dalam Pembelajaran Berdiferensiasi Di Sekolah Penggerak.” Jurnal Lingua Franca. Vol.6, No.2,
pp.224-232. . Diakses
dari https://journal.um-surabaya.ac.id/ pada tanggal 13 Oktober 2023

Komentar
Posting Komentar