RESENSI FILM ‘BUDI PEKERTI’

 

Sumber: https://21cineplex.com 

Judul            : Budi Pekerti
Sutradara     : Wregas Banuteja
Pemain        :  Ine Febriyanti, Dwi Sasono, Prilly L, Angga Yunanda
Durasi          :  1 jam 20 menit
Produksi      : Rekata Studia, Kaninga Pictures


Sinopsis film:

    Bu Prani, sosok guru Bimbingan Konseling yang memiliki cara mengajar unik. Beliau juga merupakan sosok guru yang cerdas karena memiliki inovasi dalam pembelajaran. Inovasi tersebut bernama refleksi. Pada dasarnya guru BK memang memberi konseling siswa dan membantu mengatasi permasalahan siswa. Bu Prani memberikan refleksi kepada muridnya, yang mana kegiatan kreatif mirip dengan kesalahan yang sudah diperbuat siswanya agar siswa bisa merenungkan dan membuka pikiran agar tidak melakukan kesalahan yang sama. Selain menekuni sebagai guru, ternyata Bu Prani memiliki permasalahan keluarga yang cukup berat. Suaminya pengangguran dan mengalami gangguan mental serta diwajibkan untuk konsultasi ke psikolog.

    Suatu ketika suaminya menginginkan putu yang biasanya dijual di pasar. Bu Prani menyuruh anaknya, yaitu Muklas dan Tita, tetapi mereka tidak bisa membelikannya padahal Bu Prani juga hendak latihan senam lompat tali. Akhirnya Bu Prani lah yang pergi ke pasar untuk membeli putu tersebut. Namu, antrean pembeli sangat panjang. Bu Prani melihat ada seorang pria yang menitipkan antreannya pada orang lain, Bu Prani tidak terima, dan terjadi adu mulut dengan pria tersebut. Bu Prani marah besar hingga terjadi kerumunan dan beliau tidak sengaja mengumpat.

    Umpatan yang dilontarkan Bu Prani viral di media sosial, semua orang menyalahkan beliau bahkan anaknya sendiri, Muklas si youtuber sempat tidak mengakui Bu Prani sebagai ibunya. Bu Prani klarifikasi di media sosial agar tidak disalahkan terus menerus dan ia juga akan seleksi menjadi wakil kepala sekolah jadi dia berniat membersihkan nama baiknya. Namun ia malah balik di serang oleh sosok pria yang ia temui di pasar saat putu tersebut. Sejak kejadian tersebut semua tindakan yang dilakukan Bu Prani sekeluarga menjadi sorotan dan dicari-cari kesalahannya. Bahkan, siswa yang dulu pernah diajar Bu Prani kembali mengungkit refleksi yang dilakukan dimasa lampau yang dianggap menyimpang.

    Keviralan atas kesalahan Bu Prani ini menjadi pertimbangan oleh tim pengawas yang akan menyeleksi Bu Prani sebagai wakil kepala sekolah. Hingga akhirnya Bu Prani berkoordinasi dengan muridnya dulu yaitu Gora, si penyebar berita tentang refleksinya dulu agar konfirmasi agar ia tidak menderita gangguan mental karena refleksi tersebut, tetapi ia tak mau karena takut viral dan dicari kesalahannya. Akhirnya dengan keputusan yang berat dan Bu Prani tidak ingin Gora berbohong dan tidak pernah mengajarinya berbohong, dengan berat hati Bu Prani memutuskan untuk mengundurkan diri dari sekolah karena semua kesalahannya yang sudah viral tersebut.


Kelebihan:

Kelebihan yang dimiliki oleh film ini adalah mengangkat isu yang aktual. Walaupun latar yang digunakan adalah pada saat covid, tetapi alur dan konflik cerita yang diangkat masih berhubungan dengan saat ini. Film ini juga memiliki alur yang sulit untuk ditebak penonton, sehingga penonton akan ikut terbawa suasana dengan adegan-adengan selanjutnya yang ditampilkan. Terdapat pula penggambaran tokoh yang kompleks sesuai dengan karakternya, seluruh tokoh pada film ini dijelaskan pada adegan dengan karakter masing-masing yang mendukung jalannya cerita, seperti karakter Muklas sebagai youtuber, Tita sebagai perintis usaha thrift, Bu Prani tokoh utama yang sangat berpengaruh pada jalannya cerita, dan Gora sebagai alumni sekolah Bu Prani yang mengungkap kegiatan refleksi yang dilakukannya dulu. Selain itu, tema yang diambil sangat merepresentasikan sebab akibat dari media sosial karena pada masa sekarang ini semua hal bisa langsung menjadi viral, walaupun orang biasa sekalipun.


Kekurangan:

Kekurangan dari film ini adalah ending yang menggantung. Dalam film ini memiliki akhir cerita Bu Prani yang memilih untuk mengundurkan diri dari sekolah karena berbagai masalah yang muncul baik di dirinya maupun anggota keluarganya. Di awal cerita terdapat cuplikan adegan di mana Bu Prani akan segera diusir jika tidak segera membayar sewa rumah. Namun, di akhir cerita langsung menjurus Bu Prani sekeluarga berpindah rumah, padahal di awal ceita disebutkan tidak memiliki uang yang cukup. Terdapat pula keanehan saat mobil pick up yang membawa barang-barang dan motor Muklas berhenti di lampu merah. Pemberhentian di lampu merah tersebut terlalu lama, bahkan tokoh Tita sampai turun membeli bakso dan menyuapi untuk seluruh keluarga. Adegan seperti itu sedikit aneh karena kenyataannya lampu merah hanya beberapa detik saja.


Kesimpulan:

Film ‘Budi Pekerti’ menggambarkan perjalanan Bu Prani dalam menghadapi permasalahan karena tuduhan-tuduhan di melalui media sosial. Dalam film ini memberi banyak pesan moral kepada penonton, menyoroti nilai-nilai kehidupan yang masih sangat sesuai dengan perkembangan zaman walaupun dalam film berlatar saat covid-19. Nilai moral tersebut antara lain tetap menjalani kehidupan dengan tenang dan mencari jalan keluar masalah, walaupun mengalama masalah yang bertubi-tubi tokoh Bu Prani sama sekali tidak melakukan penyimpangan fatal, hanya kesalahan yang tidak ia sengaja, ia mejadi viral seluruh media sosial. Melaui film ini juga mengajari bahwa cyber bullying merupakan tindakan yang sangat jahat dari media sosial, kita harus hati-hati dalam menggunakan media sosial agar tidak merugikan orang lain. Selain itu, juga jangan mudah termakan semua informasi karena tidak semua informasi yang beredar itu benar dan sebagai pengguna media sosial harus selektif dan tidak menelan mentah-mentah informasi yang disediakan media.











Komentar

  1. Budi pekerti ini emang salah satu film Indo yang bagus banget alurnya

    BalasHapus
  2. alurnya bagus tapi endingnya tidak, kecuali ada season lanjutan

    BalasHapus
  3. Aku sudah nonton. Filmnya memang bagus bangett

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer