Pasar Kangen: Sensasi Kuliner Jadul yang Membawa Pulang Kenangan

     Kunjungan di Pasar Kangen UNY pada tanggal 17 Mei 2024, memberikan insight untuk berpartisipasi dalam program kewirausahaan. Pasar Kangen diadakan untuk tetap melestarikan kebudayaan dengan makanan/produk-produk jaman dulu. Kunjungan ke Pasar Kangen ini tidak hanya untuk mengenang makanan/produk jadul saja, tetapi juga menjadikan saya tau bahwa sudah banyak produk luar yang mulai menggeser produk lokal Indonesia sendiri, jadi adanya Pasar Kangen ini memiliki tujuan agar kualitas produk lokal bisa tetap update dan bersanding walaupun jaman dan kemoderenan terus berkembang. 

    Adanya banyak penjual mulai dari makanan dan minuman jadul, assesoris, kamera analog maupun digicam, dan booth untuk foto-foto memberikan kesempatan untuk berinteraksi dengan berbagai penjual bahkan pengusaha sukses yang berbagi pengetahuan dan pengalaman mereka. Kesempatan untuk berinteraksi secara langsung dengan penjual dilakukan dengan wawancara atau bertanya secara langsung ketika membeli produk yang dijualnya. Sesi observasi ini dapat mencakup berbagai aspek bisnis yang sedang dijual di Pasar Kangen tersebut, mulai dari perencanaan bisnis, keunikan produk, pemasaran, hingga strategi pengembangan produk. Penjual di sini juga memiliki keunikan tersendiri, terdapat beberapa yang mendalami peran dengan menggunakan pakaian daerah, dress code warna tertentu, dan musik-musik yang berbeda dari setiap booth yang ada di Pasar Kangen. Hal yang meonjol yang saya jumpai di sini adalah makanan dan minuman, banyak makanan yang menggunakan kata-kata sedikit vulgar, dan banyak pula minuman dari yang berasal dari luar daerah.



    Salah satu makanan yang cukup menarik perhatian adalah “Mie Pentil.” Berdasarkan hasil wawancara, berbeda dengan mie pada umumnya, Mie Pentil adalah olahan dari tepung tapioka. Mungkin yang terlintas dipikiran mana “Pentil” adalah hal yang vulgar, tetapi ketika penjual menyebutnya dengan “Pentil” yang pengucapamnya sama dengan pentil sepeda. Cara memasak Mie Pentil dengan ditumis dengan bumbu sederhana dan tidak diberi tambahan topping. Jadi dinamakan demikian karena bentuk dan teksturnya yang elastis seperti pentil roda pada sepeda. Menurut saya Mie Pentil memperkenalkan tekstur yang berbeda dari mie biasa. Bentuknya yang panjang dan kenyal memberikan pengalaman makan yang unik. Mie Pentil ini juga jarang dijumpai, sehingga menambah daya tarik karena rasa penasaran konsumen yang lama tidak makan Mie Pentil ini. 

    Penggunaan kemasan yang tetap tradisional menggunakan kertas minyak dan daun pisang menjadikan cita rasa yang semakin khas. Tetapi, sebenarnya untuk kemasan sendiri bisa dikembangkan agar lebih menarik lagi misalnya dengan mika bening dengan bentuk yang menarik, pasti orang-orang akan membelinya karena teksturnya yang “pentil” terlihat jelas. Jika dikaitkan dengan kewirausahaan dan inovasi, Mie Pentil dapat menarik pelanggan lebih banyak dan keberadaannya juga mudah ditemukan meskipun di tengah kota yang jauh dari pasar tradisional. Namanya yang unik dapat dikembangkan melibatkan kemampuan untuk mengembangkan produk yang unik dan menarik. Pemilik usaha Mie Pentil dapat berinovasi dalam bumbu, tekstur, atau platting. Mie Pentil disajikan kepada pelanggan juga mempengaruhi daya tariknya. Kreativitas dalam penyajian, seperti menggunakan saus khas atau menggabungkan Mie Pentil dengan hidangan lain, yang dapat meningkatkan minat konsumen.Berdasarkan wawancara, pemasaran Mie Pentil ini belum sepesat makanan modern, hanya bisa ditemukan di pasar-pasar tertentu. Dengan demikian dapat direfleksikan dengan penyajian Mie Pentil dengan mengembangkan kreativitas, seperti menggunakan saus khas atau menggabungkan Mie Pentil dengan hidangan lain.



    Pisang Gapit merupakan kuliner khas Kalimantan Timur. Hidangan ini terdiri dari pisang yang dibakar atau dipanggang, lalu dipipihkan (digapit) dan disajikan dengan saus gula merah yang kental. Olahan pisang ini sangat menarik karena tidak mudah ditemui. Jika dikaikan dengan inovasi, hal ini dapat ditemukan pada penggunaan sausnya. Saus yang khas tersebut dapat dikombinasikan dengan yang sudah nge-tren. Misalnya dengan menggunakan saus karamel, cokelat, atau matcha, dapat menarik minat konsumen baru. Penambahan topping seperti kacang cincang, keju parut, atau es krim juga bisa menjadi inovasi menarik. Tetapi, menurut saya jika menggunakan topping-topping tersebut juga dapat mengubah cita rasa asli dari Pisang Gapit. Hal seperti ini dapat diatasi dengan penawaran kepada pembeli apakah ingin rasa original atau diberikan dengan inovasi tersebut. Pada pembuatannya menggunakan alat modern seperti grill elektrik atau oven untuk memanggang pisang dapat meningkatkan efisiensi dan konsistensi dalam penyajian. Inovasi dalam pemasakkan ini dapat dijadikan referensi bahwa penjualan makanan tradisional sudah menggunakan alat yang tergolong modern. Adanya kuliner dari luar daerah di Pasar Kangen dapat memperkenalkan makanan dari daerah lain dengan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) setempat untuk memproduksi dan menjual Pisang Gapit dapat membantu pemberdayaan ekonomi lokal sekaligus menjaga kualitas produk. Pada aspek kreativitas, Tidak hanya saat di Pasar Kangen saja, tetapi Pisang Gapit dapat dikembangkan dengan menggabungkannya dengan makanan atau minuman lain, misalnya sebagai bagian dari menu dessert di kafe atau restoran.

    

    Sego Gurih adalah hidangan khas yang muncul selama perayaan Sekaten di Yogyakarta. Uniknya, sendok yang digunakan untuk menikmati hidangan ini terbuat dari pincukan daun pisang yang disematkan dengan tusuk lidi. Namanya, yang unik menyebabkan masyarakat tertarik. Refleksi dari kuliner ini adalah Sego Gurih disajikan, mulai dari piring hingga sendok yang terbuat dari daun pisang, menunjukkan kreativitas dalam menghadirkan pengalaman yang unik bagi konsumen. Daun pisang memang identik dengan zaman dulu, tetapi cita rasa khas yang ditimbulkan memiliki daya tarik tersendiri. Namun, dalam kemasan bisa diinovasikan menjadi lebih simple, seperti menggunakan mika atau sterofoam. Jika dikaitkan dengan kewirausahaan, Kostum penjual yang unik dan totalitas juga menjadi daya tarik tersendiri dalam berinovasi dan kreatifitas, konsumen akan penasaran dan tertarik untuk membeli sehingga daya jual akan meningkat dan permintaan akan Sego Gurih Sekaten akan meningkat pula. Penjualan makanan jaman dulu, juga menyebabkan remaja gen-z penasaran dan tertarik untuk membeli. Rasa dari Sego ini juga familiar, jadi bisa dipastikan semua golongan dapat menikmati Sego Gurih Sekaten ini.bagian dari menu dessert di kafe atau restoran.



        Wedang Uwuh dan Seroja (Sereh ro Jahe) meruapakan salah satu tenant yang paling laris. Menurut penjualnya, wedangwedang ini dibuat untuk mengobati batuk jika diminum tanpa menggunakan es. Minuman seperti ini merupakan salah satu bentuk kreatif untuk berobat dengan rasa yang enak. Jika dikaitkan dengan kreativitas diri, wedang uwuh dapat diseduh dengan cepat karena dibuat dari bahan-bahan yang sudah diolah atau dikeringkan. Hal ini dapat menginspirasi diri sendiri dengan membuat inovasi minuman yang langsung seduh tetapi menggunakan bahan-bahan alami. Kreativitas saya maupun orang lain dapat dibuat serupa dengan membuat minuman alami langsung seduh. Dalam aspek kewirausahaan, produk seperti ini tidak mudah busuk, maka bisa dikembangkan dalam jangka panjang tanpa kekhawatiran. Observasi di Pasar Kangen UNY, menambah wawasan bahwa kuliner di Indonesia itu sangat banyak dan. Nama-nama unik dari makanan atau minuman jaman dulu memiliki makna tertentu dan filosofinya tersendiri. Cita rasa yang dihasilkan dari kuliner jadul juga sangat kaya akan rempah, menjadikan makanan ini bermanfaat dalam kesehatan tubuh.
        

    

    
    

Komentar

Postingan Populer